Download

6/10/2011

speed-controller-motor-dc-24v-20a



Rangkaian speed controller motor DC 24V 20A ini dibangun menggunakan IC PWM controller SG3526B dan power driver berupa MOSFET IRF4710 yang di susun parallel. Rangkaian speed controller motor DC 24V 20A ini memiliki fungsi proteksi terhadap konsleting pada beban (Motor DV yang di kendalikan) sehingga rangkaian tetap aman. Pengaturan kecepatan putaran motor DC 24V dapat dikendalikan melalui R3. Rangkaian lengkap speed controller motor DC 24V 20A dapat dilihat berikut.

Rangkaian Speed Controller Motor DC 24V 20A

Rangkaian speed controller motor DC 24V 20A diatas pada bagian controlernya dilengkapi regulator 12V yang berfungsi untuk memberikan supply tegangan ke IC SG3526B tetap 12V sehingga tegangan sumber suntuk rangkaian speed controller motor DC 24V 20A tersebut dapat diberikan tegangan 24V sesuai kebutuhan dari motor DC yang dikendalikan.

6/09/2011

Merancang Rangkaian Matriks LED

Matriks LED adalah LED-LED yang disusun dalam kolom dan baris. LED-LED ini kemudian digunakan untuk menampilkan gambar-gambar atau tulisan yang biasanya ditampilkan dengan efek animasi tertentu. Oleh karena itu, matriks LED sering disebut sebagai Running Text atau Moving Sign.

Menyusun LED sebagai matriks

MXLED merupakan simulator rangkaian matriks LED. Dengan simulator ini, kita bisa mencoba program pengendali matriks LED walaupun tanpa hardware. MXLED membuat matriks LED dengan cara menyusun LED pada jalur-jalur vertikal dan jalur-jalur horisontal. Kita harus menyediakan jalur horisontal sebanyak jumlah baris (kita buat delapan baris). Kemudian kita juga membuat jalur vertikal sebanyak jumlah kolom. Susunan jalur-jalur vertikal dan horisontal tersebut adalah seperti gambar berikut:
Jalur Vertikal dan Horisontal
Jalur Vertikal dan Horisontal
Jalur-jalur vertikal dan horisontal tersebut tidak saling terhubung. Kemudian, pada setiap titik pertemuan antara jalur vertikal dan horisontal tersebut, pasanglah sebuah LED dengan cara menghubungkan anoda ke jalur horisontal dan katoda ke jalur vertikal. Pemasangan LED tersebut adalah seperti gambar berikut:
Pemasangan LED
Pemasangan LED
Dengan memasang LED seperti di atas, LED yang menyala adalah LED yang anodanya terhubung pada jalur horisontal yang tinggi (1) dan katodanya terhubung pada jalur vertikal yang rendah (0). Hanya ada satu jalur vertikal yang rendah pada satu waktu, sedangkan jalur-jalur lainnya harus tetap tinggi. Jalur vertikal yang rendah ini kita sebut sebagai kolom aktif. Berbeda dengan jalur vertikal, jalur horisontal yang terdiri dari delapan baris ini boleh bernilai tinggi atau rendah tanpa harus memperhatikan jalur-jalur horisontal lainnya.

Pengendali horisontal

Untuk memberi tegangan pada jalur horisontal ini, kita tidak bisa secara langsung menyambungkannya ke port. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan arus yang cukup besar. Oleh karena itu, jalur-jalur horisontal kita beri catu daya menggunakan transistor PNP seperti gambar berikut:
Catu daya untuk jalur horisontal
Catu daya untuk jalur horisontal
Setiap Jalur horisontal diberi transistor seperti gambar di atas. Dengan cara seperti ini, untuk membuat agar jalur horisontal bisa memberi arus pada LED, maka basis harus diberi kondisi rendah (0). Sedangkan jika basis diberi kondisi tinggi, maka jalur justru tidak bisa memberikan arus untuk LED.

Pengendali vertikal

Seperti jalur horisontol, jalur vertikal juga tidak bisa dikendalikan secara langsung menggunakan port. Hal ini disebabkan oleh jumlah arus yang harus dibenamkan ke ground yang cukup besar. Oleh karena itu, kita bisa menggunakan transistor NPN untuk membenamkan arus dari jalur-jalur vertikal ini. Cara pemasangannya adalah seperti gambar berikut:
Sink arus jalur vertikal
Sink arus jalur vertikal
Setiap jalur vertikal dikendalikan menggunakan transistor seperti gambar di atas. Jika basis diberi kondisi tinggi (1), maka jalur akan menjadi jalur (kolom) aktif. Sebaliknya jika basis diberi kondisi rendah (0), maka jalur menjadi kolom tidak aktif.
Seperti telah disebutkan di atas, hanya ada satu kolom saja yang boleh aktif, sedangkan kolom lainnya harus tidak aktif. Ada banyak IC yang keluarannya bekerja seperti itu. Salah satu yang paling murah adalah 4017.
Pengendalian kolom menggunakan IC 4017
Pengendalian kolom menggunakan IC 4017
Sayang sekali bahwa IC ini hanya memiliki 10 keluaran saja. Dengan demikian, kita hanya bisa membuat pengendalian untuk 10 kolom saja :(
Tenang, kita bisa menggunakan trik lain untuk memperlebar kemampuan pengendalian 4017 ini. Caranya adalah dengan membuat blok-blok kolom. Kolom-kolom dikelompokkan menjadi blok-blok kolom. Setiap blok kolom terdiri dari 10 kolom. Kolom-kolom pada setiap blok kolom diberi nomor dari 0 hingga 9. Jadi, kolom 0 adalah kolom 0 dari blok 0, kolom 10 adalah kolom 0 dari blok 1, kolom 21 adalah kolom 1 dari blok 2, dan seterusnya.
Setiap basis dari kolom dengan nomor sama digabungkan menjadi satu dan dikendalikan oleh sebuah keluaran dari 4017. Sebagai contoh, basis dari kolom 0 dihubungkan dengan basis dari kolom 10, kolom 20, kolom 30, dan seterusnya. Kemudian basis-basis yang telah menjadi satu ini dikendalikan oleh Q0 dari 4017.
Blok-blok kolom
Blok-blok kolom
Dari gambar di atas bisa kita lihat bahwa walaupun basis dari kolom 0 dan kolom 10 dikendalikan secara bersamaan, akan tetapi kolom yang bisa membenamkan arus hanya kolom yang bloknya sedang aktif. Terlihat bahwa cara pengendalian kolom maupun blok kolom adalah sama. Jika jumlah blok kolomnya sedikit, maka pengendali blok kolom bisa dilakukan secara langsung menggunakan port dari mikrokontroler. Akan tetapi jika jumlah blok kolomnya cukup banyak, maka blok-blok kolom tersebut juga bisa dikendalikan menggunakan 4017 yang lain. Jadi, kita menyusun 4017 secara bertingkat, yaitu 4017 satuan (pengendali kolom) dan 4017 puluhan (pendendali blok kolom). Dan jika jumlah blok kolom inipun lebih dari 10, maka kita bisa membuat tingkat berikutnya, yaitu 4017 tingkat ratusan.
Untuk menyusun 4017 secara bertingkat seperti di atas, adalah dengan menghubungkan keluaran carry dari 4017 tingkat satuan sebagai masukan clock bagi 4017 tingkat puluhan. Dan jika ada 4017 tingkat ratusan, maka carry dari 4017 tingkat puluhan digunakan sebagai masukan clock bagi 4017 tingkat ratusan. Begitu seterusnya. Sedangkan masukan reset dari semua 4017 digabungkan menjadi satu. Dengan demikian, keseluruhan sistem pengendalian kolom hanya membutuhkan dua jalur kendali, yaitu masukan clock (merupakan msaukan clock 4017 tingkat satuan) dan masukan reset (gabungan dari semuar reset 4017). Jadi, penyusunan matriks LED seperti ini tepat sama dengan simulasi MXLED.

Perhitungan Arus

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa ada tiga macam transistor dilihat dari posisinya. Pertama adalah transistor pengendali baris, kedua adalah transistor pengendali kolom (satuan), dan transistor pengendali blok kolom (puluhan). Tentu saja perhitungan ini dengan asumsi bahwa jumlah kolom tidak lebih dari 100 kolom.

Perhitungan arus transistor pengendali horisontal

Jika setiap LED menggunakan arus sebesar I, maka jumlah maksimal total arus yang melewati transistor pengendali baris adalah I x jumlah kolom. Sebagai contoh, jika setiap LED kita rancang untuk menggunakan arus sebesar 5mA dan jumlah kolomnya adalah 30 kolom, maka transistor pengendali baris harus bisa mengalirkan arus sebesar 5 x 30 = 150mA.
Pertanyaan selanjutnya adalah, berapa nilai resistor kolektor untuk transistor tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melihat jalur arus dari catu daya hingga sampai ke ground. Pertama, catu daya masuk melalui emitor dari transistor PNP menuju kolektornya. Kemudian melewati resistor kolektor, terus masuk ke dalam LED, masuk ke kolektor pengendali kolom, kemudian masuk ke kolektor pengendali blok kolom.
Jika catu daya yang digunakan adalah sebesar 5V, berapakah tegangan jepit pada resistor? Tegangan pada resistor adalah 5V – V pada LED – VCE tansistor pengandali baris – VCE transistor pengendali kolom – VCE transistor pengendali blok kolom. Tegangan jepit LED biasanya sekitar 1,7V, akan tetapi ada beberapa jenis LED yang memiliki tegangan jepit hingga 3V. Sedangkan VCE transistor dalam keadaan saturasi biasanya adalah sekitar 0,3V. Kita anggap bahwa kita menggunakan LED biasa dengan tegangan jepit 1,7V. Jadi, tegangan jepit pada resistor adalah 5 – 1,7 – (3 x 0,3) = 2,4V.
Setelah kita mengetahui tegangan jepit pada resistor kolektor transistor pengendali baris, untuk menghitung besarnya resistor tersebut adalah R = V / I = 2,4V / 150mA = 16 ohm. Sayang sekali bahwa mungkin kita akan sulit memperoleh nilai 16 ohm ini. Jadi kita bisa menggunakan nilai yang sedikit lebih rendah, misalnya 15 ohm, sehingga arus pada LED akan sedikit lebih tinggi, atau menggunakan yang sedikit lebih tinggi, misalnya 18 ohm, sehingga arus pada LED akan sedikit lebih rendah.
Hal yang harus sangat diperhatikan pada rancangan metriks LED seperti ini adalah, bahwa perhitungan tersebut adalah perhitungan arus jika scanning sedang berjalan. Jika scanning tidak berjalan, maka arus sebesar 150mA tersebut akan masuk pada satu LED saja :!: Dan arus sebesar ini bisa dipastikan akan menghancurkan LED tersebut. Jadi, kita harus mengambil langkah pencegahan agar arus hanya boleh berjalan jika scanning pada kolom telah berjalan. Sedikit kabar gembiranya adalah, jika kita menggunakan MCS-51 sebagai pengendalinya, maka pada saat reset (proses scanning tidak berjalan) port selalu dalam keadaan tinggi. Jadi, jika basis pengendali baris dihubungkan ke port MCS-51, maka pada saat reset bisa dipastikan bahwa arus belum akan berjalan pada matriks LED. Meskipun demikian, Anda harus memastikan bahwa program tidak akan hang. Karena jika program hang dan proses scanning terhenti, maka itu artinya bencana untuk matriks LED Anda. Dan jika Anda belum yakin bahwa program Anda bisa berjalan mulus, maka Anda bisa mengurangi arus LED agar jika proses scanning tidak berjalanpun, arus yang mengalir masih cukup kecil untuk mampu ditanggung oleh sebuah LED.
Untuk menghitung nilai resistor basis transistor pengendali baris, kita hanya memperhitungkan agar transistor tersebut bekerja sebagai transistor switch, yaitu agar arus yang mengalir adalah arus jenuh. Dengan perhitungan arus kolektor sebesar 150mA, maka kita bisa menggunakan transistor C9012 yang memiliki penguatan arus sekitar 150. Kita bisa mengambil nilai 100 agar lebih aman. Dengan penguatan 100 dan arus kolektor sebesar 150mA, maka arus basis harus sekitar 1,5mA. Tegangan jepit pada resistor basis adalah sekitar 5V – VBE, dimana VBE adalah sekitar 0,7V. Jadi, tegangan jepit pada resistor basis adalah sekitar 4,3V. Dengan demikian, nilai resistor basis adalah 4,3V / 1,5mA = 2K8. Dan lagi-lagi bahwa nilai ini bukan nilai yang tersedia. Jadi kita bisa sedikit mengurangi nilainya menjadi angka terdekat yang tersedia, yaitu 2K7.

Perhitungan arus transistor pengendali kolom

Pengendali kolom akan membenamkan arus sebanyak jumlah baris pada kolom tersebut. Dan kita telah menentukan bahwa jumlahnya adalah delapan baris. Jika kita telah menentukan bahwa arus LED adalah 5mA, maka arus maksimal yang akan dibenamkan oleh transistor pengendali kolom adalah 8 x 5mA, yaitu 40mA. Dengan nilai sebesar ini, kita cukup menggunakan transistor C9013 untuk pengendali kolom. Pengutan transistor C9013 juga sekitar 150. Dan seperti sebelumnya, kita mengambil angka aman menjadi 100 saja. Dengan penguatan sebesar 100 dan arus kolektor sebesar 40mA, maka arus basis pada transistor pengendali kolom adalah sebesar 0,4mA.
Tegangan jepit pada resistor basis pengendali kolom adalah tegangan keluaran dari 4017 dikurangi 2x tegangan VBE. Jika kita menggunakan catu daya 5V, maka tegangan keluaran 4017 adalah sekitar 4,8V. Jadi, tegangan jepit pada resitor basis adalah sekitar 4,8 – 2 x 0,7 = 3,4V. Dengan demikian, nilai resistor basis transistor pengendali kolom adalah 3,4V / 0,4mA = 8K5. Dan lagi-lagi, nilai ini bukan nilai yang tersedia. Jadi, gunakan saja nilai 8K2.

Perhitungan arus transistor pengendali blok kolom

Transistor pengendali blok kolom akan membenamkan arus sebanyak 10 x arus pada transistor pengendali kolom, yaitu 10 x 40mA = 400mA. Dari datasheet, C9013 memiliki arus kolektor maksimum sebesar 500mA. Jadi, kita masih bisa menggunakan C9013 untuk pengendali blok kolom.
Tegangan jepit pada resistor basis pengendali blok kolom adalah tegangan yang digunakan untuk mengendalikan transistor ini dikurangi 1x tegangan VBE. Jika kita juga menggunakan 4017 untuk pengendali blok kolom, maka tegangan jepit pada resistor basis pengendali blok kolom adalah sekitar 4,8 – 0,7 = 4,1V. Dengan demikian, nilai resistor basis pengendali blok kolom adalah 4,1V / 4mA = 1K.
Itu saja. Selamat mencoba :!:

6/04/2011

Membuat Alat dengan IC 4017

Sebelumnya salam kenal, semoga anda dalam keadaan sehat selalu semoga pertanyaan anda dapat saya jawab walaupun tidak begitu mendetail namun besar harapan saya bisa menambah refrensi buat saudara dalam membuat alatnya, saya coba jelaskan berdasarkan gambar rangkaian yang anda kirimkan,

Sebelum memulai sebaiknya kita ketahui terlebih dahulu datasheet IC yang akan digunakan, dari rangakaian yang saudara tanyakan menggunakan IC Johnson Counter IC tersebut mempunyai pin sebanyak 16 pin dan pin VCC nya berada di pin 16, sedangkan untuk groundnya ada di pin 8 dan clocknya ada di pin 14 sedangkan untuk keluarannya (outputnya) di pin yang ada 01,02,03,04,05,06,07


Pada dasarnya rangkaian diatas sama dengan rangkaian yang pernah saya posting Led animasi dengan 4017 hanya saja di rangkaian yang pernah saya posting menggunakan ic555 sebagai pembangkit clocknya dan IC yang digunakan hanya satu, sebenarnya tidak ada perbedaan yang begitu di rangkaian yang saudara tanyakan dengan rangkaian led animasi dengan 4017, Output yang dikeluarkan dengan menggunaka IC ini adalah flip-flop  atau biasa di kenal dengan led berjalan, nyala lednya bergantian. memang dari rangkaian diatas sumber ke IC tidak terhubung dengan kabel, namun kalau saudara mencoba membuatnya dengan menggunakan EWB (Elektronik Work Beanch) rangkaian sumber bisa saudara hubungkan secara langsung dnegan satu masukan, atau bisa juga dengan memisahkan masukan, nanti pada pin VCC nya ambil tegangan sumbernya dan pasang di vcc,
  
Sekilas Logika kerja alat dari gambar rangkaian diatas:
Pada saat IC atau rangkaian mendapatkan catu daya atau tegangan sumber DC, IC tersebut sudah siap untuk mengeluarkan output dari pin 2,4,7,10,1,5,6 (01,02,03,04,05,06,07 pada datasheet), sebelum IC mengeluarkan output IC terlebih dahulu membaca pin 13 dan pin 14, pin 13 (CP1 Invert) harus diberi logika low atau rendah, sedangkan pin 14 CP0 harus diberi masukan logika high atau tinggi, dari rangkaian saudara bisa lihat dipin 13 dihubungkan ke switch sebelum switch yang dihubungkan ke vcc, dan sebelum switch ada satu buah resistor yang dihubungkan ke ground, nah pada saat switch tersebut tidak ditekan secara tidak langsung Pin 13 (CP1 Invert) mendapat logika low atau rendah dari resistor, dan pada saat switch ditekan pin 13 mendapat logika high atau positif dari vcc dan resistor berfungsi sebagai tahanan luar, sedangkan pada pin 14 yang di butuhkan ic adalah logika high atau positif, dimana logika high atau positif diperoleh dari rangkaian pembangkit yang dihasilkan dari IC CMOS 4011 logika yang dikeluarkan oleh Cmos 4011 high, low dari pengosongan kapasitansi kapasitor sebesar 0.1mf, dan sekaligus kapasitor disini berfungsi sebagi interfal clock yang di hasilka.
untuk mencoba rangkaian ini silahkan di coba saja dengan menggunakan 1 IC 4017 saja terlebih dahulu jika sudah berkerja dengan baik, untuk pengembangan selanjutnya saudara bisa pasang atau tambahkan ic 4017 lebih dari satu sesuai dengan berapa banyak keluaran yang ingin saudara butuhkan, 

semoga dapat menambah refrensi buat saudara yang sedang mencoba membuat alat atau yang mempunyai hoby di bidang elektronika, lanjutkan terus jangan menyerah, tidak ada yang instan dan tidak ada yang mudah tanpa belajar dan tidak ada yang tidak bisa jika mau mencoba, sukses buat anda.

Instalasi Motor 3 Fasa Menggunakan Kontaktor dan Push Button

Memasang Instalasi Motor 3 Fasa Menggunakan Kontaktor dan Push Button

I. Tujuan Pembelajaran
1. Agar dapat memasang instalasi motor 3 fasa menggunakan kontaktor dan push button.
2. Agar dapat mengoperasikan motor 3 fasa menggunakan kontaktor dan push button.

II. Alat dan Bahan
a. Alat-alat
1. Tang Kombinasi
2. Tang Pengupas Kabel
3. Tang Pemotong
4. Obeng (+) (-)
5. Tes Pen
6. Multimeter

b. Bahan
1. Motor Induksi 3 Fasa
2. Kontaktor Magnet
3. Over Load
4. MCB 3 Fasa
5. Tombol Off, On
6. Kabel NYA 2,5 mm2
7. Terminal Strip 10 mm

III. Langkah Kerja
1. Teliti dengan baik gambar kerja.
2. Buat dahulu gambar pengawatan sesuai gambar diagram.
3. Siapkan semua peralatan yang diperlukan.
4. Mulailah bekerja sesuai rencana.
5. Setelah selesai melaksanakan pengawatan, cek dahulu kebenaran rangkaian dengan menggunakan multimeter.
6. Dalam pengawasan instruktur hubungkan rangkaian ke sumber tegangan.
7. Lakukan pengoperasian :
- Tekan tombol On, motor akan bekerja.
- Tekan tombol Off, motor akan berhenti.
8. Amati hasil percobaan anda.
9. Buatlah kesimpulan hasil percobaan anda.
10. Bongkar kembali rangkaian dan bersihkan kembali tempat kerja anda.

IV. Keselamatan Kerja
1. Letakkan semua peralatan pada tempat yang aman.
2. Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya.
3. Tanyakan pada instruktur bila mengalami kesulitan.

Gambar Rangkaian Daya

Gambar Rangkaian Pengendali

contoh laporan ELECTRONIC WORKBENCH(EWB)

contoh laporan ELECTRONIC WORKBENCH(EWB)

PERCOBAAN I
SIMULASI SALURAN TRANSMISI
DENGAN MENGUNAKAN EWB

I.1 Simulasi Saluran Transmisi Pendek
I.1.1 Tujuan Percobaan
Mahasiswa dapat mengetahui dan menganalisa rangkaian equivalent dari saluran trasmisi pendek.
I.1.2 Teori Dasar
EWB (Electronic WorkBench) adalah salah satu jenis software elektronika yang digunakan untuk melakukan simulasi terhadap cara kerja dari suatu rangkaian listrik. Perlunya simulasi rangkaian listrik adalah untuk menguji apakah rangkaian listrik itu dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan pendekatan teori yang digunakan pada buku-buku elektronika, tanpa harus membuat rangkaian listrik itu secara nyata. Perlu diingat, simulasi yang dilakukan dengan menggunakan EWB adalah simulasi yang menghasilkan keluaran yang ideal. Maksudnya keluaran yang tidak terpengaruh oleh faktor-faktor ketidakidealan seperti gangguan (dikenal dengan noise dalam elektronika) seperti halnya gangguan yang sering terjadi pada rangkaian listrik yang sebenarnya (nyata). Electronics workbench (EWB) terdiri dari Menu Reference, Sources, Basic, Diodes, Transistors, Analog ICs, Mixed ICs, DigitalICs, Indicators dan masih banyak lagi menu yang terdapat pada EWB.
Penggunaan EWB haruslah didukung oleh pengetahuan dasar tentang elektronika.Tanpa pengetahuan dasar elektronika yang memadai seperti cara pemakaian alat ukur (osiloskop, multimeter dan lain sebagainya), tentu saja akan lebih sukar untuk memahami cara kerja dari software ini. Software ini menggunakan sistem GUI (Graphic User Interface) seperti halnya Windows sehingga pemakai software yang sudah memahami pengetahuan dasar elektronika akan mudah menguasai penggunaan software ini.
Software EWB yang beredar di Indonesia adalah kebanyakan software bajakan (telah di-crack) oleh cracker, usahakan jangan menggunakan software bajakan untuk menyelesaikan proyek besar yang berhubungan dengan lisensi penggunaan software.
Cara menginstall EWB 5.12:
Peng-install-an software ini cukup mudah. Cari source (sumber/ file setup) dari EWB 5.12 ini, lalu double click pada file setup. Tentukan tempat tujuan EWB diinstall (misalnya C:\Program Files\ EWB 5.12), lalu klik OK. Tunggu proses instalasi selesai, lalu ke start menu buka programs-->electronic workbench-->EWB 5.12. EWB siap dipakai.
Penggunaan EWB secara singkat:
Umumnya, ada tiga hal yang perlu dikuasai oleh pemakai baru EWB yaitu cara pemakaian alat ukur yang disediakan, pemakaian komponen elektronika (mencakup komponen aktif, pasif dan sumber sinyal/sumber tegangan) dan pembentukan rangkaian.
Pemakaian alat ukur
Setelah Anda menjalankan EWB, Anda akan melihat tiga toolbar menu (barisan toolbar file,edit ; toolbar 'gambar' new,open ; dan toolbar komponen dan alat ukur). Pada barisan terakhir, klik toolbar yang paling kanan. Lalu pilih alat ukur yang ingin dipakai (osiloskop atau multimeter), drag simbol osiloskop atau multimeter ke bawah (layar putih). Pada simbol osiloskop ada empat titik kecil yang bisa dipakai yaitu channel A dan B serta dua node ground.
Untuk mengubah time/div dan volt/div seperti yang biasa dilakukan pada osiloskop yang nyata, klik dua kali simbol osiloskop. Tampilan windows kecil akan muncul dan Anda dapat mengisi nilai time/div , volt/div yang diinginkan ataupun mengubah hal-hal yang lain. Penggunaan multimeter juga hampir sama dengan osiloskop. Drag simbol multimeter, klik dua kali untuk mengubah modus pengukuran (pengukuran arus, tegangan ataupun hambatan).
Pemakaian komponen elektronika
Pada barisan terakhir, mulai dari toolbar 'gambar' yang kedua sampai toolbar 'gambar' yang ketigabelas adalah toolbar yang berisi simbol komponen. Pada praktikum elektronika dasar ini, Anda hanya cukup memakai toolbar yang kedua sampai toolbar kelima. Mulai dari toolbar kedua sampai kelima, ada simbol komponen seperti simbol resistor, kapasitor, dioda, op-amp, batere, ground, dll. Cara memakai komponen ini hampir sama dengan pemakaian alat ukur. Untuk mengubah besar nilai komponen dilakukan dengan klik dua kali komponen, lalu isi nilai komponen yang diinginkan pada tempat yang disediakan.
Penggunaan alat ukur dan komponen untuk lebih detailnya dapat ditanyakan pada asisten praktikum pada saat praktikum. (Simbol sinyal generator ada pada toolbar yang paling kanan/ toolbar alat ukur).
Pembentukan rangkaian
Setelah mengambil beberapa komponen yang diinginkan untuk membentuk suatu rangkaian listrik, Anda perlu menyambung kaki-kaki dari satu simbol ke simbol lainnya. Penyambungan kaki dapat dilakukan dengan: arahkan mouse pointer ke ujung kaki simbol, usahakan ujung kaki simbol berwarna terang; lalu klik dan tahan mouse, tujukan ke ujung kaki simbol yang ingin disamjbung sampai ujung kaki simbol tersebut berwarna terang dan lepas mouse. Kedua komponen akan tersambung dengan suatu simbol kawat penghantar. Untuk lebih jelasnya dapat ditanyakan pada asisten.
Simulasi
Setelah tiga hal tersebut dikuasai, rangkaian listrik sudah dapat dibentuk. Setelah rangkaian listrik plus alat ukur dipasang pada bagian yang akan diukur (biasanya input dan output), Anda dapat memulai simulasi dengan menekan simbol saklar yang terletak di pinggir kanan atas (klik tanda I untuk on simulasi dan klik tanda O untuk off simulasi; tanda pause bisa juga digunakan terutama untuk mencatat nilai). Usahakan windows kecil alat ukur tetap terbuka, supaya grafik hasil pengukuran dapat dibaca. Setelah menguasai tiga langkah dasar dan cara simulasinya, diharapkan Anda dapat menguasai dasar penggunaan software ini. Untuk menguasai software ini secara detail, Anda dapat menanyakannya pada Asisten bagian yang belum dimengerti. Semoga Anda tertarik dengan simulasi rangkaian listrik dengan software Electronic WorkBench (EWB) 5.12 ini.
Di dalam Electronics Workbench terdapat beberapa tools – tools yang bisa di aplikasikan buat mata kuliah praktikum sistem digital.di antara tool – tool tersebut :
halaman utama gambar 1












Membuat new dokumen
Klik file new atau Ctrl N, gambar 2









Membuat Rangkaian – Rangkaian Gambar 3



Cara merangkai gerbang – gerbang tersebut:
Buat ground terlebih dahulu gambar 4, lalu sambungkan ground tersebut dengan kaki gerbang yang ada tanda GND gambar 5.












Dilanjutkan dengan menyambungkan Vcc sama dengan ground tadi, gambar 6.





Kemudian dilanjutkan membuat switch saklar masing inputan gambar 7


Untuk memanupulasi switch klik double pada switch maka akan keluar seperti gambar 8 .














ubah nilai value sebagai tombol mana yang dibuat menghidupkan atau mematikan tombol. Pada gambar 9.







Sekarang untuk output kita buat dari tools indikator, pada gambar 10



Sehingga Rangkaian NOR jadi seperti gambar 11.


Contoh – contoh rangkaian gerbang dasar Sisitem digital.

































I.I.3 Alat - alat yang di gunakan
PC ( Personal computer )
Software Electronics Workbench V 5.12
I.1.4 Prosedur Percobaan
Merangkai seperti pada gambar rangkaian percobaan.
Memasukkan tegangan pada Vs lalu mengukur I, Vs, Vr, pf dan ps.
Mengulangi percobaan untuk Vs (sumber tegangan) yang bervariasi.
Mengulangi prosedur 1 – 3 atau sesuai dengan petunjuk asisten
I.I.5 Gambar rangkaian percobaan

Rangkaian saluran pendek dengan tegangan 30 KV


Rangkaian saluran pendek dengan tegangan 50 KV

Rangkaian saluran pendek dengan tegangan 75 KV


Rangkaian saluran pendek dengan tegangan 100 KV



Rangkaian saluran pendek dengan tegangan 125 KV


I.I.6 Analisa hasil praktikum
Rangkaian saluran pendek

Data Praktik
Vs (KV) VR (KV) IS = IR (A)
30 29,68 14,84
50 49,49 24,74
75 74,23 37,12
100 98,94 49,47
125 123,7 61,86




Analisa Data







Data 1(30 Kv)








= 440,451 kW



Data 2 (50 Kv)


















Data 3 (75 Kv)











Data 4 (100 Kv)











Data 5 (125 Kv)











Tabel perbandingan data praktik dan teori

Data Praktik
Vs (KV) VR (KV) IS = IR (A)
30 29,68 14,84
50 49,49 24,74
75 74,23 37,12
100 98,94 49,47
125 123,7 61,86

Data Teori
Vs (KV) VR (KV) IS = IR (A)
32,79 29,68 14,84
50,009 49,49 24,74
75,009 74,23 37,12
99,98 98,94 49,47
124,99 123,7 61,86

II.1 Simulasi Saluran Transmisi Menengah
II.1.1 Tujuan Percobaan
Mahasiswa dapat mengetahui dan menganalisa rangkaian equivalent dari saluran transmisi menengah.
II.1.2 Teori Dasar
Nama lain dari Software disebut juga dengan perangkat lunak. Seperti nama lainnya itu, yaitu perangkat lunak, sifatnya pun berbeda dengan hardware atau perangkat keras, jika perangkat keras adalah komponen yang nyata yang dapat diliat dan disentuh oleh manusia, maka software atau Perangkat lunak tidak dapat disentuh dan dilihat secara fisik, software memang tidak tampak secara fisik dan tidak berwujud benda tapi kita bisa mengoperasikannya.
Pengertian Software komputer adalah sekumpulan data elektronik yang disimpan dan diatur oleh komputer, data elektronik yang disimpan oleh komputer itu dapat berupa program atau instruksi yang akan menjalankan suatu perintah. melalui sofware atau perangkat lunak inilah suatu komputer dapat menjalankan suatu perintah. Setiap kesalahan dalam suatu rangkaian yang menyebabkan terganggunya aliran arus yang normal disebut gangguan. Kebanyakan dari gangguan-gangguan yang terjadi pada saluran transmisi bertegangan 115 KV atau lebih disebabkan oleh petir yang mengakibatkan terjadinya percikan bunga api (flashover) pada isolator-isalator. Tegangan tinggi yang ada diantara penghantar dan menara atau tiang penyangga yang ditanahkan (grounded) menyebabkan terjadinya ionisasi.
Suatu gangguan dapat menimbulkan kerusakan besar pada suatu sistem tenaga. Banyak sekali studi-studi, pengembangan alat-alat, dan desain-desain sistem pelindung yang telah dibuat, sehingga pencegahan kerusakan pada saluran transmisi dan peralatan lain serta cara pemutusan arus pada saat ada gangguan selalu mengalami perbaikan. Tegangan pada generator besar biasanya berkisar di antara 13,8 KV dan 24 KV. Tetapi generator besar yang modern dibuat dengan tegangan yang bervariasi antara 18 dan 24 KV. tidak ada suatu standart yang umum diterima untuk tegangan generator.
Tegangan generator dinaikkan ketingkat yang dipakai untuk transmisi yaitu antara 115 dan 765 KV. Tegangan tinggi standart adalah 115, 138 dan 230 KV. Tegangan tinggi ekstra adalah 345, 500 dan 765 KV. Kini dilakukan penelitian untuk pemakaian tegangan ultra tinggi yaitu diantara 1000 dan 1500 KV, keuntungan dari transmisi dengan tegangan yang lebih tinggi akan menjadi jelas jika kita melihat pada kemampuan transmisi dari suatu saluran transmisi. Kempuan ini biasanya dinyatakan dalam Megavolt-ampere (MVA) kemampuan transmisi dari saluran yang sama panjangnya berubah-ubah kira-kira sebanding dengan kuadrat tegangan, tetapi kemampuan transmisi dari suatu saluran dengan tegangan tertentu tidak dapat ditetapkan dengan pasti, karena kemampuan ini masih tergantung lagi pada batasan-batasan (limit) thermal dari penghantar, jatuh tegangan (Voltage Drop) yang diperbolehkan dan persyaratan-persyaratan kestabilan sistem, kebanyakan faktor ini masih tergantung pula pada panjangnya saluran.
Kabel transmisi di bawah tanah (Under Ground) untuk suatu tegangan tertentu kelihatanya baru dikembangkan 10 tahun setelah saluran transmisi terbuka untuk tagangan yang sama mulai dioprasikan., dilihat dari keseluruhan panjangnya transmisi dibawah tanah hampir dapat diabaikan saja, tetapi pertumbuhan yang diperlihatkannya cukup tinggi. Pemakaian kabel semacam ini kebanyakan terbatas pada daerah–daerah yang padat penduduknya atau di daerah-daerah perairan yang luas.
Penurunan tegangan dari tingkat tegangan transmisi pertama-tama terjadi pada stasiun pembangkit bertenaga besar, di mana tegangan diturunkan ke daerah antara 34,5 dan 138 KV, sesuai dengan tagangan saluran transmisinya. Beberapa pelanggan yang memakai tenaga untuk keperluan industri sudah dapat dicatu daya dengan tegangan ini. Penurunan tegangan berikutnya terjadi pada stasiun pembantu distribusi, di mana tegangan diturunkan lagi menjadi 4 sampai 34,5 KV dan biasanya teganggan pada saluran yang keluar dari stasiun pembantu tersebut berkisar antara 11 dan 15 KV. Hal ini yang biasa disebut sistem distribusi primer. Kebanyakan beban untuk industri dicatu dari sistem primer, yang juga mencatu transformator distribusi. Transformator ini menyediakan tegangan sekunder pada rangakaian tiga-kawat berfasa tunggal untuk pemakaian di rumah-rumah tempat tinggal. Di sini tegangannya adalah 240 Volt antara dua kawat, dan 120 Volt di atara masing-masing kawat tersebut dan kawat ketiga diketanahkan. rangkaian lainnya ialah sistem empat kawat berfasa tiga yang dinyatakan dengan 208 Y/120 V, atau 480 Y/277 V.
Suatu saluran transmisi listrik mempunyai empat parameter yang mempengaruhi kemampuannya untuk berfungsi sebagai bagian dari suatu sistem tenaga, yaitu : resistansi, induktansi, kapasitansi, dan konduktansi.
Dalam saluran transmisi jarak pendek, kapasitansi dan resistansi bocor diabaikan, oleh karena itu saluran transmisi ini dapat diperlakukan sederhana, dimana impedansi tetapnya mengumpul pada suatu tempat dan dapat dinyatakan oleh:
Z = R + jXL = zl = rl + jxl Ω
Saluran transmisi pendek memiliki jarak sampai dengan 50 mil atau 80 Km. Pada saluran ini arus masuk pada sisi pengiriman sama dengan arus yang keluar pada sisi penerima.








Tenaga listrik sangat berguna karena tenaga listrik itu dapat dengan mudah disalurkan dan juga mudah diatur. Tenaga listrik dibangkitkan di pusat-pusat listrik tenaga (PLT), seperti : tenaga air (PLTA), tenaga uap (PLTU), tenaga panas bumi (PLTP), tenaga gas (PLTG), tenaga diesel (PLTD), tenaga nuklir (PLTN) dan lain sebagainya.
Pusat-pusat listrik tenaga itu, terutama yang menggunakan tenaga air (PLTA) umumnya terletak jauh dari tempat pemukiman, terutama tenaga listrik itu digunakan atau pusat-pusat beban (load centers). Karena itu tenaga listrik yang dibangkitkan harus disalurkan melalui kawat atau saluran transmisi. Karena tegangan generator pada umumnya rendah antara 6 KV sampai dengan 24 KV, maka tegangan ini biasanya dinaikkan dengan pertolongan transformator daya ke tingkat tegangan yang lebih tinggi antara 30 KV sampai 500 KV (di beberapa negara maju bahkan sudah sampai 1.000 KV).
Tingkat tegangan yang lebih tinggi ini, selain untuk memperbesar daya hantar dari saluran yang berbanding lurus dengan kuadrat tegangan, juga untuk memperkecil rugi-rugi daya dan jatuh tegangan pada saluran. Sudah jelas, dengan mempertinggi tegangan tingkat isolasipun harus lebih tinggi dengan demikian biaya peralatan juga tinggi.
Penurunan tegangan dari tingkat tegangan transmisi pertama-tama dilakukan pada gardu induk (GI) dimana tegangan diturunkan ke tegangan yang lebih rendah, misalnya: dari 500 KV ke 150 KV atau dari 150 KV ke 70 KV. Kemudian penurunan kedua dilakukan pada gardu induk distribusi dari 50 KV ke 20 KV atau dari 70 KV ke 20 KV. Tegangan 20 KV ini disebut tegangan distribusi primer.
Ada dua kategori saluran transmisi: saluran udara (overhead lines) dan saluran kabel tanah (underground cable), yang pertama menyalurkan tenaga listrik melalui kawat yang digantung pada menara atau tiang transmisi dengan perantaraan isolator-isolator, sedang kategori kedua menyalurkan tenaga listrik melalui kabel yang ditanam dibawah permukaan tanah. Kedua cara penyaluran di atas mempunyai untung ruginya masing-masing. Dibandingkan dengan saluran udara saluran tanah tidak terpengaruh oleh cuaca buruk, hujan, angin, bahaya petir dan sebagainya. Lain pula saluran bawah tanah lebih eksitesis karena tidak mengganggu pandangan. Karena alasan terakhir ini saluran bawah tanah lebih disukai terutama untuk daerah yang padat penduduknya dan kota-kota besar. Namun biaya pembangunannya jauh lebih besar dibanding dengan saluran udara dan perbaikannya jauh lebih sukar jika ada gangguan hubung singkat dan gangguan-ganguan yang lain.
Saluran Transmisi AC Atau DC
Menurut jenis arusnya dikenal sistem arus bolak-balik (AC = Alternating Current) dan sistem arus searah (DC = Direct Current). Didalam sistem AC kenaikan dan penurunan tegangan mudah dilakukan yaitu dengan menggunakan transformator, itulah sebabnya pada dewasa ini saluran transmisi di dunia adalah saluran transmisi AC. Ada sistem satu phasa dan tiga phasa. Sistem tiga phasa mempunyai keuntungan dibandingkan dengan satu phasa karena :
Daya yang disalurkan lebih besar.
Nilai sesaatnya (instantaneous value) konstan
Mempunyai medan magnet putar.
Berhubung dengan keuntungan-keuntungannya, hampir seluruh penyaluran tenaga listrik dilakukan dengan arus bolak-balik. Namun sejak beberapa tahun terakhir ini penyaluran arus searah mulai dikembangkan di beberapa bagian di dunia ini. Penyaluran DC mempunyai keuntungan karena misalnya isolasi yang lebih sederhana, daya guna yang lebih tinggi karena faktor dayanya sama dengan 1 serta tidak adanya masalah stabilitas, sehingga dimungkinkan penyaluran jarak jauh. Tetapi persoalan ekonomisnya harus dipertimbangkan. Penyaluran dengan sistem tenaga listrik DC baru dapat dianggap ekonomis (bila dapat bersaing dengan sistem AC) bila jarak saluran udara lebih jauh antara 400 sampai 600 Km, atau untuk saluran bawah tanah lebih panjang dari 50 Km. Ini disebabkan karena biaya peralatan pengubah dari AC ke DC dan sebaliknya (converter and inverter equipment) sangat mahal.
Tegangan Transmisi
Untuk daya yang sama maka daya guna penyaluran akan naik oleh karena rugi-rugi transmisi turun apabila tegangan transmisi ditinggikan namun peninggian tegangan transmisi berarti juga penaikan isolasi dan biaya peralatan dan gardu induk. Oleh karena itu pemilihan tegangan transmisi dilakukan dengan memperhitungkan daya yang disalurkan jumlah rangkaian jarak penyaluran dan keandalan biaya peralatan untuk tegangan tertentu, serta tegangan yang sekarang ada dan yang direncanakan, kecuali itu penentuan tegangan harus juga dilihat dari segi standarisasi peralatan yang ada. Penentuan tegangan merupakan bagian dari perencanaan sistem secara keseluruhan.
Meskipun tidak jelas menyebutkan keperluannya sebagai tegangan transmisi di Indonesia, pemerintah tidak menyeragamkan deretan tegangan tinggi sebagai berikut:
Tegangan nominal (KV) : (30) – 66 – 150 – 220 – 380 – 500.
Tegangan tertinggi untuk perlengkapan (KV) : (36) – 72,5 – 170 – 245 – 420 – 525.
Tegangan nominal 30 KV hanya diperkenankan untuk daerah asuhan dimana tegangan distribusi 20 KV tidak dipergunakan. Penentuan deretan tegangan di atas disesuaikan dengan rekomendasi International Electronical Commission (IEC).
Sehubungan bertambah panjangnya saluran transmisi dan juga tingginya tegangan maka menggunakan persamaan yang ada pada saluran pendek tentu tidak efektif dan hasilnya tidak teliti. Untuk itu efek dari arus bocor melalui kapasitansi harus diperhitungkan sebagai analisis pendekatan yang lebih teliti. Jadi admitansi paralel yang digambarkan berkumpul pada beberapa titik sepanjang saluran, dapat digambarkan oleh salah satu dari dua rangkaian yaitu untai nominal T atau untai nominal  seperti yang diperlihatkan pada gambar dibawah ini.

Komponen-Kompenen Utama Dari Saluran Udara
Komponen – komponen utama dari saluran transmisi terdiri dari:
Menara transmisi atau tiang transmisi beserta fondasinya
Isolator – isolator
Kawat penghantar
Kawat tanah.
Menara Atau Tiang Transmisi
Menara atau tiang transmisi adalah suatu bangunan penopang saluran transmisi yang biasa berupa menara baja, tiang baja atau beton pada umumnya digunakan pada saluran – saluran dengan tegangan kerja relatif rendah (dibawah 70 KV) sedang untuk saluran transmisi tegangan tinggi atau ekstra tinggi digunakan menara baja. Menara baja dibagi sesuai dengan fungsinya yaitu menara dukung, menara sudut, menara ujung, menara percabangan dan menara transposisi.
Isolator – Isolator
Jenis isolator yang digunakan pada umumnya adalah jenis porselin atau gelas. Menurut penggunaan dan konstruksinya dikenal tiga jenis isolator yaitu: isolator jenis pasak, isolator jenis pos-saluran dan isolator gantung. Isolator jenis pasak dan jenis pos-saluran digunakan pada saluran transmisi dengan tegangan kerja relatif rendah (kurang dari 22 – 33 KV) sedang isolator gantung dapat digandeng menjadi rentengan isolator yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.
Kawat Penghantar
Jenis – jenis kawat penghantar yang biasa digunakan pada saluran transmisi adalah tembaga dengan konduktivitas 100% (Cu 100%), tembaga dengan konduktivitas 97,5% atau aluminium dengan konduktivitas 61% (AL 61%). Kawat penghantar aluminium terdiri dari berbagai jenis dengan lambang sebagai berikut:
ACC = “All-Aluminium Conductor” yaitu kawat penghantar yang seluruhnya terbuat dari aluminium.
AAAC = “All-Aluminium Alloy Conductor” yaitu kawat penghantar yang seluruhnya terbuat dari campuran aluminium.
ACSR = “Aluminium Conductor, Alloy-Reinforced”. yaitu kawat penghantar aluminium yang diperkuat dengan logam campuran.
Kawat penghantar tembaga mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan kawat penghantar aluminium karena konduktivitas dan kuat tariknya lebih tinggi. Tetapi kelemahannya ialah, tembaga lebih berat dari aluminium dan juga lebih mahal. Untuk itu kawat penghantar aluminium lebih banyak menggantikan kawat penghantar tembaga
Untuk memperbesar kuat tarik dari aluminium digunakan campuran aluminium (aluminium Alloy). Untuk saluran – saluran transmisi tegangan tinggi dimana jarak antara dua tiang atau menara jauh (ratusan meter) dibutuhkan kuat tarik yang lebih tinggi. Untuk itu digunakan kawat penghantar ACSR.
Kawat Tanah
Kawat tanah atau ground wires juga disebut sebagai kawat pelindung gunanya untuk melindungi kawat penghantar atau kawat phasa terhadap sambaran petir. Jadi kawat tanah itu dipasang diatas kawat phasa. Sebagai kawat tanah umumnya digunakan kawat baja (stell wires) yang lebih murah, tetapi tidaklah jarang digunakan ACSR.
Resistansi
Resistansi pengantar saluran transmisi adalah penyebab yang terpenting dari rugi daya ( power losses ) pada saluran transmisi. Jika tidak ada keterangan lain, maka yang dimaksud dengan istilah resistansi adalah resistansi efektif. Resistansi efektif dari suatu penghantar adalah

R = Ω
dimana daya dinyatakan dalam watt dan I adalah arus rms. Pada penghantar dalam ampere. Resistansi efektif sama dengan resistansi arus searah ( DC ) dari saluran jika terdapat distribusi arus yang merata (uniform) di seluruh penghantar. Kita akan membahas sedikit tentang distribusi arus yang tidak merata sesudah kita mengulang beberapa konsep dasar dari resistansi DC.
Resistansi DC diberikan oleh rumus dibawah ini

Di mana


Satuan apapun boleh dipakai disini, asal tetap konsisten.
Untuk soal – soal ketenagaan di amerika serikat, I biasanya diberikan dalam kaki (feet), A dalam circular mils (cmils) dan ρ dalam ohm – cmil per foot, yang kadang –kadang disebut ohm per circular mil – foot dalam unit –unit SI, I adalah dalam meter, A dalam meter persegi, dan ρ dalam ohm meter.
Sehubungan bertambah panjangnya saluran transmisi dan juga tingginya tegangan maka menggunakan persamaan yang ada pada saluran pendek tentu tidak efektif dan hasilnya tidak teliti. Untuk itu efek dari arus bocor melalui kapasitansi harus diperhitungkan sebagai analisis pendekatan yang lebih teliti. Jadi admitansi pararel yang digambarkan berkumpul pada beberapa titik sepanjang saluran, dapat digambarkan oleh salah satu dari dua rangkaian yaitu untai nominal T atau untai nominal .
Besarnya tegangan pengujian yang harus diterapkan pada pengujian tegangan tinggi tergantung pada tegangan nominal alat listrik yang harus diuji pada standar yang berlaku. Tegangan tinggi yang diterapkan atau yang dialami oleh sistem tenaga dapat berupa :
Tegangan biasa (nominal) yaitu tegangan yang seharusnya dapat ditahan oleh sistem tersebut untuk yang tak terhingga.
Tegang lebih (over voltage) yang hanya dapat ditahan untuk waktu terbatas.
Pada pengujian tinggi tersebut terdapat pengujian yang merusak dan yang tidak merusak alat yang diuji, pengujian yang sifatnya merusak pada umumnya terdiri dari tahap yang tergantung pada tingkat tegangan. Pada gambar akan diperlihatkan hubungan antara tegangan pengujian dengan waktu pengujian.

Keterangan :
Pengujian ketahanan pada tegangan Vw selama 1 menit.
Pengujian lompatan dengan tegangan lompatan Vf.
Pengujian kegagalan dengan tegangan gagal Vb.
A.d. 1. Pengujian ketahanan (Withstand test) : sebuah tegangan tertentu diterapkan untuk waktu yang ditentukan. Bila tidak terjadi lompatan api (flashover, distruptive discharge), maka pengujian dianggap memuaskan.
A.d. 2. Pengujian pelepasan pada benda yang diuji. Sudah barang tentu tegangan pelepasan ini lebih tinggi dari tegangan ketahanan. Pengujiannya dapat dilakukan dalam suasana kering (udara biasa) dan suasana basah (menirukan suasana hujan).
A.d. 3. Pengujian kegagalan (break down) : tegangan dinaikan sampai terjadi kegagalan (Break down) di dalam benda yang diuji.
Kapasitor Shunt dan Reaktor Shunt
Di dalam suatu sistem tenaga sering diperlukan kapasitor shunt dan reaktor shunt yang dipakai sebagai alat kompensasi pada saluran transmisi. Kompensasi diperlukan untuk memperbaiki harga tegangan agar level tegangan tetap berada pada batasbatas yang diizinkan. Pada kondisi kebutuhan daya nyata dan reaktif yang cukup besar maka tegangan cenderung jatuh melewati batas yang diijinkan. Untuk mengatasi kondisi demikian maka dipasang kapasitor shunt yang dapat menyuplai daya reaktif sehingga tegangan dapat naik kembali. Pada kondisi kebutuhan daya nyata dan reaktif sangat kecil maka pengaruh dari kapasitansi saluran akan menyebabkan naiknya tegangan di sisi penerima melewati batas yang diizinkan. Pemasangan reaktor shunt akan menyerap pelepasan muatan dari kapasitansi saluran sehingga tegangan turun kembali. Kapasitor shunt dan induktor direpresentasikan sebagai sumber daya reaktif.
Pembangkitan dan Penyerapan Daya Reaktif
Pada suatu jaringan sistem tenaga listrik, ada tiga komponen yang memiliki karakteristik berbeda yang berpengaruh terhadap aliran daya reaktif. Komponen tersebut adalah generator, kabel transmisi dan beban. Generator sinkron dapat digunakan untuk membangkitkan dan menyerap daya reaktif. Batas kemampuan untuk menghasilkan daya reaktif ditentukan oleh rasio hubung singkat dari generator tersebut. Pada mesin-mesin modern, nilai dari rasio ini dibuat rendah untuk alasan ekonomi dan sebab itu kemampuan untuk beroperasi pada faktor daya leading tidak begitu besar. Contohnya sebuah generator 200 MW, p.f 0,85 dengan stabilitas yang diizinkan 10 persen, memiliki kemampuan menghasilkan daya reaktif pada leading p.f hanya sebesar 45 MW . Namun kemampuan ini akan ditambahkan bila generator berfungsi sebagai regulator tegangan pada sistem (kondenser sinkron).
Kabel transmisi yang berkapasitas tinggi menyerap daya reaktif. Dengan arus saluran I ampere dan reaktansi saluran per phasa sebesar X ohm, maka besarnya daya reaktif yang diserap oleh kabel saluran adalah sebesar I2X Var. Namun pada saluran yang berkapasitas rendah, kapasitansi shunt ke tanah menjadi lebih dominan dan saluran menjadi pembangkit daya reaktif. Beban pada faktor daya 0,95 memiliki kebutuhan daya reaktif sebesar 0,33 kVAr per KW dari beban . Dalam perancangan sebuah jaringan system tenaga adalah penting memprediksi kebutuhan akan daya reaktif untuk memastikan generator mampu untuk beroperasi pada faktor daya dan beban yang diharapkan Injeksi Daya Reaktif
Metoda ini adalah metoda fundamental pengaturan tegangan pada sistem tenaga. Namun apabila ditinjau dari aspek fleksibilitas dan ekonomi, metoda ini digunakan apabila peran transformator dengan tap-changing tidak memadai. Pada umumnya, metoda injeksi daya reaktif ini meliputi : kapasitor shunt, kapasitor seri dan kompensator sinkron. Kapasitor shunt digunakan untuk jaringan dengan faktor daya lagging (tertinggal), sebaliknya reaktor digunakan untuk jaringan dengan faktor daya leading. Dalam kedua kasus tersebut peran keduanya adalah memenuhi kebutuhan daya reaktif untuk menjaga level tegangan sistem.
Kapasitor dihubungkan langsung pada busbar atau pada belitan tersier trafo utama. Kapasitor seri dipasangkan seri dengan saluran, digunakan untuk mengurangi reaktansi induktif di saluran antara pembangkit dan beban . Kompensator sinkron adalah motor sinkron yang beroperasi tanpa beban mekanik dan dapat menyerap atau membangkitkan daya reaktif bergantung pada besarnya eksitasi yang diberikan. Kelebihan dari metoda ini adalah fleksibilitas pada semua kondisi beban. Meskipun biaya instalasi yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan kapasitor, namun pada kondisi-kondisi tertentu perannya tidak tergantikan oleh kapasitor. Seperti pada busbar terima transmisi tegangan tinggi dimana factor daya kurang dari 1,0 (unity p.f) tidak bisa ditoleransi.

Koordinasi Dua Transformator Tap-changing

Prinsip dasar dari pengaturan tegangan menggunakan transformator tap-changing adalah dengan mengatur rasio belitan pada salah satu sisi belitan. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar di bawah ini. ts dan tr adalah fraksi dari rasio nominal transformator (perbandingan rasio tap dengan rasio nominal). Contohnya sebuah transformator yang memiliki rasio nominal 6,6 dan 33 kV, ketika ditap untuk mendapatkan rasio nominal 6,6 dan 36 kV memiliki ts = 36/33 = 1,09. V1 dan V2 adalah tegangan nominal pada sisi kirim dan terima, setelah dilakukan tap tegangan menjadi tsV1 dan trV2 .














II.1.3 Alat - alat yang di gunakan
PC ( Personal computer )
Software Electronics Workbench V 5.12
II.1.4 Prosedur Percobaan
Merangkai seperti pada gambar rangkaian percobaan.
Memasukkan tegangan pada Vs lalu mengukur I, Vs, Vr, pf dan ps.
Mengulangi percobaan untuk Vs (sumber tegangan) yang bervariasi.
Mengulangi prosedur 1 – 3 atau sesuai dengan petunjuk asisten
II.1.5 Gambar rangkaian percobaan
Rangkaian saluran menengah nominal T dengan 30 KV




Rangkaian saluran menengah nominal T dengan 50 KV


Rangkaian saluran menengah nominal T dengan 75 KV


Rangkaian saluran menengah nominal T dengan 100 KV




Rangkaian saluran menengah nominal T dengan 125 KV





II.1.6 Analisa hasil praktikum
Rangkaian saluran menengah nominal T

Data Praktik
Vs (KV) Is (A) Vr (KV) Ir (A)
30 26,62 28,70 14,35
50 44,36 47,58 23,92
75 66,55 71,77 35,88
100 88,72 95,67 47,84
125 110,9 119,6 59,80

II.2.7 Analisa Data









Z = Rd + R+ jXl
= 1+45+j2 50(3x10-3)
= 46+j0,942
Y = jXc
= j2 50x(2x10-6)
= j(6,28x10-4)
= (6,28x10-4)
Untuk Nominal T




Data 1(30 KV)













Data 2 (50 Kv)













Data 3(75Kv)













Data 4(100Kv)
















Data 5(125Kv)



















Tabel perbandingan data praktik dan teori nominal T

Data Praktik
Vs (KV) Is (A) Vr (KV) Ir (A)
30 26,62 28,70 14,35
50 44,36 47,58 23,92
75 66,55 71,77 35,88
100 88,72 95,67 47,84
125 110,9 119,6 59,80

Data Teori
Vs (KV) Is (A) Vr (KV) Ir (A)
30 26,62 28,76 28,57
50 44,36 47,93 44,35
75 66,55 74,69 66,53
100 88,72 99,59 88,69
125 110,9 122,38 107,69





II.2.1 Alat - alat yang di gunakan
PC ( Personal computer )
Software Electronics Workbench V 5.12
II.2.2 Prosedur Percobaan
Merangkai seperti pada gambar rangkaian percobaan.
Memasukkan tegangan pada Vs lalu mengukur I, Vs, Vr, pf dan ps.
Mengulangi percobaan untuk Vs (sumber tegangan) yang bervariasi.
Mengulangi prosedur 1 – 3 atau sesuai dengan petunjuk asisten
II.2.3 Gambar rangkaian percobaan
Rangkaian saluran menengah nominal π dengan 30 KV

Rangkaian saluran menengah nominal π dengan 50 KV






Rangkaian saluran menengah nominal π dengan 75 KV




Rangkaian saluran menengah nominal π dengan 100 KV





Rangkaian saluran menengah nominal π dengan 125 KV






II.2.4 Analisa hasil praktikum
Rangkaian saluran menengah nominal π

Vs(Kv) Is (Ampere) Vr (Kv) Ir (Ampere)
30 47,37 29,32 14,66
50 78,97 48,86 24,43
75 118,5 73,29 36,64
100 157,9 97,71 48,85
125 197,4 122,1 61,07

II.2.5 Analisa Data




Z = Rd + R+ jXl
= 1+45+j2 50(3x10-3)
= 46+j0,942
Y = jXc
= j2 50x(2x10-6)
= j(6,28x10-4)
= (6,28x10-4)





Data 1(30Kv)













Data 2(50 Kv)













Data 2(75 Kv)














Data 4(100 Kv)














Data 5(125 Kv)
















Tabel perbandingan data praktik dan teori nominal phy
Data Praktik

Vs(Kv) Is (Ampere) Vr (Kv) Ir (Ampere)
30 47,37 29,32 14,66
50 78,97 48,86 24,43
75 118,5 73,29 36,64
100 157,9 97,71 48,85
125 197,4 122,1 61,07

Data Teori

Vs(Kv) Is (Ampere) Vr (Kv) Ir (Ampere)
30 47,37 28,62 29,31
50 78,97 46,3 78,94
75 118,5 74,34 117,96
100 157,9 92,55 159,65
125 197,4 115,79 197,34












III.1 Simulasi Saluran Transmisi Panjang
III.1.1 Tujuan Percobaan
Mahasiswa dapat mengetahui dan menganalisa rangkaian equivalent dari saluran transmisi panjang.
III.1.2 Teori Dasar
Transformator tenaga adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi untuk menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya (mentransformasikan tegangan). Dalam operasi umumnya, trafo-trafo tenaga ditanahkan pada titik netralnya sesuai dengan kebutuhan untuk sistem pengamanan/proteksi, sebagai contoh transformator 150/70 kV ditanahkan secara langsung di sisi netral 150 kV, dan transformator 70/20 kV ditanahkan dengan tahanan di sisi netral 20 kV nya. Transformator yang telah diproduksi terlebih dahulu melalui pengujian sesuai standar yang telah ditetapkan.
Transformator tenaga dapat di klasifikasikan menurut:
Pasangan :
Pasangan dalam
Pasangan luar
Pendinginan
3. Fungsi/Pemakaian :
Transformator mesin
Transformator Gardu Induk
Transformator Distribusi
Kapasitas dan Tegangan
Cara Kerja dan Fungsi Tiap-tiap Bagian
Suatu transformator terdiri atas beberapa bagian yang mempunyai fungsi masing-masing :
Bagian Utama
Inti besi
Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluks, yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempengan-lempengan besi tipis yang berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugi-rugi besi) yang ditimbulkan oleh “Eddy Current”.
Kumparan trafo
Beberapa lilitan kawat berisolasi membentuk suatu kumparan. Kumparan tersebut diisolasi baik terhadap inti besi maupun terhadap kumparan lain dengan isolasi padat seperti karton, pertinax dan lain-lain. Umumnya pada trafo terdapat kumparan primer dan sekunder. Bila kumparan primer dihubungkan dengan tegangan/arus bolak-balik maka pada kumparan tersebut timbul fluksi yang menginduksikan tegangan, bila pada rangkaian sekunder ditutup (rangkaian beban) maka akan mengalir arus pada kumparan ini. Jadi kumparan sebagai alat transformasi tegangan dan arus.
Kumparan tersier
Kumparan tersier diperlukan untuk memperoleh tegangan tersier atau untuk kebutuhan lain. Untuk kedua keperluan tersebut, kumparan tersier selalu dihubungkan delta. Kumparan tersier sering dipergunakan juga untuk penyambungan peralatan bantu seperti kondensator synchrone, kapasitor shunt dan reactor shunt, namun demikian tidak semua trafo daya mempunyai kumparan tersier.
Minyak trafo
Sebagian besar trafo tenaga kumparan-kumparan dan intinya direndam dalam minyak-trafo, terutama trafo-trafo tenaga yang berkapasitas besar, karena minyak trafo mempunyai sifat sebagai media pemindah panas (disirkulasi) dan bersifat pula sebagai isolasi (daya tegangan tembus tinggi) sehingga berfungsi sebagai media pendingin dan isolasi. Untuk itu minyak trafo harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Kekuatan isolasi tinggi
Penyalur panas yang baik berat jenis yang kecil, sehingga partikel-partikel dalam minyak dapat mengendap dengan cepat
Viskositas yang rendah agar lebih mudah bersirkulasi dan kemampuan pendinginan menjadi lebih baik
Titik nyala yang tinggi, tidak mudah menguap yang dapat membahayakan
Tidak merusak bahan isolasi padat
sifat kimia yang stabil.
- Bushing
Hubungan antara kumparan trafo ke jaringan luar melalui sebuah busing yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator, yang sekaligus berfungsi sebagai penyekat antara konduktor tersebut dengan tangki trafo.
- Tangki dan Konservator
Pada umumnya bagian-bagian dari trafo yang terendam minyak trafo berada (ditempatkan) dalam tangki. Untuk menampung pemuaian minyak trafo, tangki dilengkapi dengan konservator.
b) Peralatan Bantu
- Pendingin
Pada inti besi dan kumparan-kumparan akan timbul panas akibat rugi-rugi besi dan rugi-rugi tembaga. Bila panas tersebut mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, akan merusak isolasi di dalam trafo, maka untuk mengurangi kenaikan suhu yang berlebihan tersebut trafo perlu dilengkapi dengan sistem pendingin untuk menyalurkan panas keluar trafo. Media yang digunakan pada sistem pendingin dapat berupa udara/gas, minyak dan air. Pengalirannya (sirkulasi) dapat dengan cara :
Alamiah (natural)
Tekanan/paksaan (forced).
- Tap Changer (perubah tap)
Tap Changer adalah perubah perbandingan transformator untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder sesuai yang diinginkan dari tegangan jaringan/primer yang berubah-ubah. Tap changer dapat dilakukan baik dalam keadaan berbeban (on-load) atau dalam keadaan tak berbeban (off load), tergantung jenisnya.
- Alat pernapasan
Karena pengaruh naik turunnya beban trafo maupun suhu udara luar, maka suhu minyakpun akan berubah-ubah mengikuti keadaan tersebut. Bila suhu minyak tinggi, minyak akan memuai dan mendesak udara di atas permukaan minyak keluar dari dalam tangki, sebaliknya bila suhu minyak turun, minyak menyusut maka udara luar akan masuk ke dalam tangki.
Kedua proses di atas disebut pernapasan trafo. Permukaan minyak trafo akan selalu bersinggungan dengan udara luar yang menurunkan nilai tegangan tembus minyak trafo, maka untuk mencegah hal tersebut, pada ujung pipa penghubung udara luar dilengkapi tabung berisi kristal zat hygroskopis.
- Indikator
Untuk mengawasi selama trafo beroperasi, maka perlu adanya indicator pada trafo sebagai berikut:
indikator suhu minyak
indikator permukaan minyak
indikator sistem pendingin
indikator kedudukan tap dan sebagainya.
c) Peralatan Proteksi
- Relay Bucholz
Relay Bucholz adalah relay alat/ relay untuk mendeteksi dan mengamankan terhadap gangguan di dalam trafo yang menimbulkan gas.
Gas yang timbul diakibatkan oleh:
a. Hubung singkat antar lilitan pada/dalam phasa
b. Hubung singkat antar phasa
c. Hubung singkat antar phasa ke tanah
d. Busur api listrik antar laminasi
e. Busur api listrik karena kontak yang kurang baik.
- Pengaman tekanan lebih
Alat ini berupa membran yang dibuat dari kaca, plastik, tembaga atau katup berpegas, berfungsi sebagai pengaman tangki trafo terhadap kenaikan tekan gas yang timbul di dalam tangki yang akan pecah pada tekanan tertentu dan kekuatannya lebih rendah dari kakuatan tangi trafo.
- Relay tekanan lebih
Relay ini berfungsi hampir sama seperti rele Bucholz, yakni mengamankan terhadap gangguan di dalam trafo. Bedanya rele ini hanya bekerja oleh kenaikan tekanan gas yang tiba-tiba dan langsung mentripkan P.M.T.
- Relay Diferensial
Berfungsi mengamankan trafo dari gangguan di dalam trafo antara lain flash over antara kumparan dengan kumparan atau kumparan dengan tangki atau belitan dengan belitan di dalam kumparan ataupun beda kumparan.
- Relay Arus lebih
Befungsi mengamankan trafo arus yang melebihi dari arus yang diperkenankan lewat dari trafo terseut dan arus lebih ini dapat terjadi oleh karena beban lebih atau gangguan hubung singkat.
- Relay Tangki tanah
Berfungsi untuk mengamankan trafo bila ada hubung singkat antara bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan pada trafo.
- Relay Hubung tanah
Berfungsi untuk mengamankan trafo bila terjadi gangguan hubung singkat satu phasa ke tanah.




- Relay Termis
Berfungsi untuk mencegah/mengamankan trafo dari kerusakan isolasi kumparan, akibat adanya panas lebih yang ditimbulkan oleh arus lebih. Besaran yang diukur di dalam relay ini adalah kenaikan temperatur.
Pengujian Transformator
Pengujian transformator dilaksanakan menurut SPLN’50-1982 dengan melalui tiga macam pengujian, sebagaimana diuraikan juga dalam IEC 76 (1976), yaitu :
- Pengujian Rutin
Pengujian rutin adalah pengujian yang dilakukan terhadap setiap transformator, meliputi:
pengujian tahanan isolasi
pengujian tahanan kumparan
pengujian perbandingan belitan Pengujian vector group
pengujian rugi besi dan arus beban kosong
pengujian rugi tembaga dan impedansi
pengujian tegangan terapan (Withstand Test)
pengujian tegangan induksi (Induce Test).
- Pengujian jenis
Pengujian jenis adalah pengujian yang dilaksanakan terhadap sebuah trafo yang mewakili trafo lainnya yang sejenis, guna menunjukkan bahwa semua trafo jenis ini memenuhi persyaratan yang belum diliput oleh pengujian rutin.
Pengujian rutin meliputi :
pengujian kenaikan suhu
pengujian impedansi
- Pengujian khusus
Pengujian khusus adalah pengujian yang lain dari uji rutin dan jenis, dilaksanakan atas persetujuan pabrik denga pembeli dan hanya dilaksanakan terhadap satu atau lebih trafo dari sejumlah trafo yang dipesan dalam suatu kontrak.
Pengujian khusus meliputi :
pengujian dielektrik
pengujian impedansi urutan nol pada trafo tiga phasa
pengujian hubung singkat
pengujian harmonik pada arus beban kosong
pengujian tingkat bunyi akuistik
pengukuran daya yang diambil oleh motor-motor kipas dan pompa minyak.
- Pengukuran tahanan isolasi
Pengukuran tahanan isolasi dilakukan pada awal pengujian dimaksudkan untuk mengetahui secara dini kondisi isolasi trafo, untuk menghindari kegagalan yang fatal dan pengujian selanjutnya, pengukuran dilakukan antara:
sisi HV - LV
sisi HV - Ground
sisi LV- Groud
X1/X2-X3/X4 (trafo 1 fasa)
X1-X2 dan X3-X4 trafo 1 fasa yang dilengkapi dengan circuit breaker.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan megger, lebih baik yang menggunakan baterai karena dapat membangkitkan tegangan tinggi yang lebih stabil. Harga tahanan isolasi ini digunakan untuk kriteria kering tidaknya trafo, juga untuk mengetahui apakah ada bagian-bagian yang terhubung singkat.
- Pengukuran tahanan kumparan
Pengukuran tahanan kumparan adalah untuk mengetahui berapa nilai tahanan listrik pada kumparan yang akan menimbulkan panas bila kumparan tersebut dialiri arus. Nilai tahanan belitan dipakai untuk perhitungan rugi-rugi tembaga trafo.
Pada saat melakukan pengukuran yang perlu diperhatikan adalah suhu belitan pada saat pengukuran yang diusahakan sama dengan suhu udara sekitar, oleh karenanya diusahakan arus pengukuran kecil.
Peralatan yang digunakan untuk pengukuran tahanan di atas 1 ohm adalah Wheatstone Bridge, sedangkan untuk tahanan yang lebih kecil dari 1 ohm digunakan Precition Double Bridge.
Pada saat ini tegangan tinggi maksimum yang diketahui dinyatakan dalam Tabel 1.1. Dari daftar ini dapat dilihat bahwa tegangan komersil yang tertinggi di dunia ada di Uni Sovyet dengan tegangan searah 800 kV, untuk memindahkan daya sebanyak 750 MW (Mega Watt) sejauh 475 km. Seperti diuraikan di atas pemakaian EHV atau UHV didasarkan alas urgensinya.
Didalam pertimbangan kenaikan tegangan selalu diperhatikan faktor-faktor ekonomis disamping faktor-faktor teknis pelaksanaannya. Kecuali itu di negara-negara barat terutama, faktor sosial juga mendapat perhatian. Di negara-negara tersebut suatu perusahaan listrik tidak akan memasang saluran transmisi di daerah-daerah yang padat penduduknya, apalagi dengan tegangan EHV, sebelum perusahaan tersebut menyelidiki dengan teliti pengaruh gangguan tersebut terhadap suara radio yang dimiliki penduduk di daerah itu (radio interference).
Inilah sebab pokoknya mengapa tegangan komersil di Amerika Serikat, misalnya lebih rendah daripada tegangan sistem di Uni Soviet, meskipun tegangan percobaan 750 kV susah dipakai sejak tahun limapuluh oleh beberapa perusahaan.


Saluran Transmisi
Klasifikasi saluran transmisi ada 3 (tiga) yaitu saluran transmisi pendek, menengah dan panjang.Yang tergolong dalam saluran transmisi pendek adalah saluran transmisi yang panjangnya tidak lebih dari 80 km. Admitansi pararel yang sering disebut juga line charging yang biasanya merupakan kapasitansi murni, pada saluran ini nilainya kecil sekali, sehingga dalam perhitungan dapat diabaikan. Sehingga rangkaian ekivalen dari saluran jenis ini merupakan impedansi seri sederhana. Saluran transmisi menengah memiliki panjang antara 80 sampai 240 km. Nilai kapasitansi pada saluran jenis ini cukup besar, sehingga tidak dapat diabaikan dalam perhitungan. Rangkaian ekivalen yang menggambarkan admitansi parallel. yang terpusat di tengah-tengah saluran dinamakan Rangkaian Ekivalen T-Nominal. Saluran transmisi tergolong panjang memiliki panjang lebih dari 240 km.
Rangkaian T Nominal dan Π -Nominal tidak dapat mereprensen tasikan saluran transmisi panjang dengan tepat, karena rangkaian tersebut tidak memperhitungkan kenyataan bahwa parameter saluran tersebut merata. Perbedaan kedua rangkaian tersebut dengan saluran transmisi yang sebenarnya menjadi besar. Akan tetapi masih mungkin untuk mendapatkan rangkaian ekivalen transmisi panjang dan merepresentasikan secara tepat dengan jaringan parameter terpusat, asal pengukuran-pengukuran hasilnya dilakukan pada ujung-ujung saluran.

III.1.3 Alat - alat yang di gunakan
PC ( Personal computer )
Software Electronics Workbench V 5.12
III.1.4 Prosedur Percobaan
Merangkai seperti pada gambar rangkaian percobaan.
Memasukkan tegangan pada Vs lalu mengukur I, Vs, Vr, pf dan ps.
Mengulangi percobaan untuk Vs (sumber tegangan) yang bervariasi.
Mengulangi prosedur 1 – 3 atau sesuai dengan petunjuk asisten
III.1.5 Gambar rangkaian percobaan
Rangkaian saluran panjang dengan 30 KV


Rangkaian saluran panjang dengan 50 KV






Rangkaian saluran panjang dengan 75 KV



Rangkaian saluran panjang dengan 100 KV



Rangkaian saluran panjang dengan 125 KV







III.1.6 Analisa Data
Vs(Kv) Is (Ampere) Vr (Kv) Ir (Ampere)
30 25,38 27,78 13,89
50 42,30 46,29 23,15
75 63,45 69,44 34,72
100 84,60 92,59 46,29
125 105,08 115,7 57,87






Z = Rd + R+ jXl
= 1+45+j2 50(3x10-3)
= 46+j0,942
Y = jXc
= j2 50x(2x10-6)
= j(6,28x10-4)
= (6,28x10-4)





Data 1(30Kv)













Data 2(50Kv)













Data 3(75Kv)













Data 4(100Kv)













Data 5(125Kv)























Tabel perbandingan data praktik dan teori
Data Praktik
Vs(Kv) Is (Ampere) Vr (Kv) Ir (Ampere)
30 25,38 28,81
50 42,30 46,29 23,15
75 63,45 69,44 34,72
100 84,60 92,59 46,29
125 105,08 115,7 57,87

Data Teori
Vs(Kv) Is (Ampere) Vr (Kv) Ir (Ampere)
30 25,38 28,81 25,37
50 42,30 48,02 42,38
75 63,45 72,03 67,23
100 84,60 96,06 84,05
125 105,08 120,08 105,05












KESIMPULAN
Untuk merancang dan menganalisa sistem distribusi dan transmisi maka dapat diuji melalui software simulasi. Pada software ini terdapat dua bagian yaitu utilities untuk alternating current dan utilities untuk direct current, dalam merancang sistem distribusi dan line transmisi, harus memenuhi etika standar yang diizinkan agar software dapat diimplementasikan pada rancangan yang telah dibuat.
Apabila parameter-parameter yang dimasukkan tidak memenuhi standar,maka software tak dapat menjalankan program yang kita rancang/buat.













SARAN
Sebelum melaksanakan praktikum, hendaknya praktikan mengetahui apa yang akan dipraktekkan
Sebelum praktik seharusnya asisten telah menyiapkan mana alat yang berfungsi dengan baik untuk dipakai pada saat praktikan akan dilaksanakan
Perlu adanya pengawasan dari asisten agar para praktikan tidak bingung dalam melakukan praktik dan melakukan pengambilan data.

Sepeda Motor dengan Sensor Sentuh

Bagaimana cara mengamankan sepeda motor?

Pengamanan motor pada dasarnya adalah membuat saklar ganda selain sakalar pada kunci motor. Motor hanya bisa dihidupkan jika baik kunci maupun saklar ganda ON. Saklar ganda ini biasanya ditempatkan pada tempat yang tersembunyi. Biasanya di bawah jok.
Walaupun cara tersebut sangat sederhana, akan tetapi cukup efektif untuk membuat pencuri mengurungkan niatnya mencuri sepeda motor Anda. Secara umum, pencuri beraksi dalam waktu cepat. Jadi, jika setelah dia memutar kunci dengan cara paksa menggunakan kunci T, ternyata tidak serta merta membuat motor bisa dihidupkan, maka dia akan memilih untuk membatalkan niatnya mencuri motor tersebut ketimbang mencari tahu posisi saklar rahasianya. Terlalu beresiko!
Akan tetapi walaupun efektif, cara tersebut memiliki kelemahan. Pertama, setiap kali kita mematikan motor, kita juga harus mematikan saklar rahasia. Jika kita terlupa mematikan saklar rahasia tersebut, maka berarti pengamanan menjadi tidak berfungsi. Kelemahan kedua adalah, bahwa biasanya pencuri mengamati terlebih dahulu motor yang akan dicuri. Jadi, saat kita sedang membuka jok dan mematikan saklar rahasia, bisa jadi si pencuri memperhatikan kita dan tahu posisi saklar tersebut.
Untuk mengatasi kelemahan tersebut, kita bisa menggunakan relay.
Skema Rangkaian Relay
Skema Rangkaian Relay. Klik untuk memperbesar
Relay di aktifkan menggunakan transistor NPN C9013 Q1. Relay hanya akan aktif jika Q1 ON. Sedangkan Q1 hanya akan ON jika basisnya mendapatkan arus yang cukup. Basis Q1 hanya bisa mendapat arus melalui R1 dan transistor PNP C9012 Q2. Jadi, Q1 hanya akan ON jika Q2 juga ON. Q2 akan ON jika basisnya mendapatkan tegangan yang lebih rendah dari emitornya sekitar -0,7V. Basis Q2 terhubung ke kolektor Q1 melalui R2. Dan karena Q1 masih OFF, maka kolektor ini akan tertarik ke tegangan catu daya melalui kumparan pada relay. Dengan demikian, basis Q2 akan memiliki tegangan yang sama dengan emitornya. Oleh karena itu, Q2 juga akan OFF.
Susunan dioda D2 dan R4 menjadikan tegangan basis Q2 hanya ditarik menuju tegangan catu melalui relay kemudian melalui R2 saja yg besarnya adalah 1M. Jika kita menyentuh sensor sementara bagian tubuh kita yang lain juga menyentuh ground, maka tegangan basis Q2 akan tertarik ke bawah. Tarikan ke arah tegangan catu oleh R2 terlalu kecil dibandingkan tarikan ke bawah melalui tangan. Hal ini mengakibatkan basis Q2 menjadi lebih rendah dari emitornya. Dengan demikian, Q2 akan ON. Jika Q2 ON, maka Q1 juga akan ON. Dan jika Q1 ON, maka kolektor Q1 akan turun menjadi hanya sekitar 0,3V saja. Dengan susunan D2 dan R4, maka basis Q2 akan ditarik cukup kuat ke arah ground. Dengan demikian, walaupun tangan kita dilepaskan dari sensor, Q2 akan tetap dipertahankan untuk ON.
C1 digunakan untuk memastikan bahwa saat pertama kali rangkaian mendapatkan arus, maka basis Q2 akan bertegangan sama dengan emitornya. Dengan demikian, Q2 akan dijamin dalam keadaan OFF sampai sensor disentuh.
D1 digunakan untuk membuang tegangan yang dihasilkan oleh kumparan relay saat catu daya diputus. Hal ini berguna untuk mencegah kerusakan pada transistor karena tegangan tersebut.


Cara melakukan pemasangan.

Ada dua tipe CDI sepeda motor, yaitu CDI AC dan CDI DC.
Pada sepeda motor dengan menggunakan CDI AC, biasanya kunci motornya memiliki 4 kabel (lihat langsung dari belakang kunci). 2 kabel merupakan saklar normal terbuka, dan 2 kabel lagi saklar normal tertutup. Saklar normal terbuka digunakan untuk memutus atau menyambung Accu ke rangkaian kelistrikan motor. Sedangkan saklar normal tertutup digunakan untuk mengijinkan CDI menyala atau mencegahnya. Jika kedua kabel kendali CDI tersebut dihubungkan, maka CDI tidak bisa menyala. Sebaliknya jika kedua kabel tersebut diputus, maka CDI bisa menyala.
Kunci Motor dengan CDI AC
Kunci Motor dengan CDI AC. Klik untuk memperbesar
Untuk memasang rangkaian relay pada sepeda motor tipe ini, hubungkan + dari rangkaian ke titik B. Kemudian pasang secara paralel saklar relay dengan mengambil bagian normal tertutup ke titik C dan D. Ground dari rangkaian dihubungkan ke chasis sepeda motor.
Pemasangan pada CDI AC
Pemasangan pada CDI AC. Klik untuk memperbesar
Untuk mengetahui titik2 tersebut, lakukan percobaan berikut:
Pertama putar kunci pada posisi OFF. Gunakan Voltmeter dengan probe negatif dihubungkan ke chasis. Kemudain probe positif dicoba pada ke empat titik pada kunci. Hanya ada satu titik yang akan memiliki tegangan 12V. Nah, titik tersebut adalah titik A. Kemudian putar kunci ke posisi ON dan cari titik lain yang juga memiliki tegangan 12V. Titik tersebut adalah titik B. 2 titik lainnya adalah titik C dan D.
Sedangkan pada sepeda motor dengan CDI DC, maka kunci motor hanya memiliki 2 kabel saja. Jadi yg perlu Anda lakukan adalah mencari titik A saja. Dan otomatis titik yang lain adalah titik B. Sedangkan pemasangannya adalah dengan memotong hubungan B ke kelistrikan. Dari B dihubungkan ke + rangkaian dan common saklar relay. Kemudian dari normal terbuka dihubungkan ke kelistrikan motor. Jangan lupa, ground dari rangkaian dihubungkan ke chasis sepeda motor.
Pemasangan pada CDI DC
Pemasangan pada CDI DC. Klik untuk memperbesar
Sensor bisa ditempatkan dimana saja terserah Anda. Akan tetapi sensor harus benar-benar terisolasi dari chasis. Sebagai contoh, sambungkan sensor ke salah satu sekrup atau baud pada body motor (yang plastik) yang sekrup tersebut tidak menyentuh pada chasis.
Selamat mencoba, semoga sepeda motor Anda terhindar dari pencurian :!:

6/01/2011

Sekilas Tentang Electronics Workbench

Untuk menganalisa dan merancang suatu rangkaian elektronika kita tidak harus membuat rangkaian tersebut baru kemudian kita coba amati rangkaian tersebut dengan mempergunakan multimeter ataupun osiloskop. Sekarang kita dapat mempergunakan software elektronika untuk menganalisa dan merancang suatu rangkaian elektronika. Software yang paling umum dipergunakan adalah Electronics Workbench.
EWB (Electronic WorkBench) adalah salah satu jenis software elektronika yang digunakan untuk melakukan simulasi terhadap cara kerja dari suatu rangkaian listrik. Perlunya simulasi rangkaian listrik adalah untuk menguji apakah rangkaian listrik itu dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan pendekatan teori yang digunakan pada buku-buku elektronika, tanpa harus membuat rangkaian listrik itu secara nyata. Perlu diingat, simulasi yang dilakukan dengan menggunakan EWB adalah simulasi yang menghasilkan keluaran yang ideal. Maksudnya keluaran yang tidak terpengaruh oleh faktor-faktor ketidakidealan seperti gangguan (dikenal dengan noise dalam elektronika) seperti halnya gangguan yang sering terjadi pada rangkaian listrik yang sebenarnya (nyata). Electronics workbench (EWB) terdiri dari Menu Reference, Sources, Basic, Diodes, Transistors, Analog ICs, Mixed ICs, DigitalICs, Indicators dan masih banyak lagi menu yang terdapat pada EWB.

Penggunaan EWB haruslah didukung oleh pengetahuan dasar tentang elektronika.Tanpa pengetahuan dasar elektronika yang memadai seperti cara pemakaian alat ukur (osiloskop, multimeter dan lain sebagainya), tentu saja akan lebih sukar untuk memahami cara kerja dari software ini. Software ini menggunakan sistem GUI (Graphic User Interface) seperti halnya Windows sehingga pemakai software yang sudah memahami pengetahuan dasar elektronika akan mudah menguasai penggunaan software ini. Software EWB yang beredar di Indonesia adalah kebanyakan software bajakan (telah di-crack) oleh cracker, usahakan jangan menggunakan software bajakan untuk menyelesaikan proyek besar yang berhubungan dengan lisensi penggunaan software.
Cara menginstall EWB 5.12:
Peng-install-an software ini cukup mudah. Cari source (sumber/ file setup) dari EWB 5.12 ini, lalu double click pada file setup. Tentukan tempat tujuan EWB diinstall (misalnya C:\Program Files\ EWB 5.12), lalu klik OK. Tunggu proses instalasi selesai, lalu ke start menu buka programs–>electronic workbench–>EWB 5.12. EWB siap dipakai.
Penggunaan EWB secara singkat:
Umumnya, ada tiga hal yang perlu dikuasai oleh pemakai baru EWB yaitu cara pemakaian alat ukur yang disediakan, pemakaian komponen elektronika (mencakup komponen aktif, pasif dan sumber sinyal/sumber tegangan) dan pembentukan rangkaian.
Pemakaian alat ukur
Setelah Anda menjalankan EWB, Anda akan melihat tiga toolbar menu (barisan toolbar file,edit ; toolbar ‘gambar’ new,open ; dan toolbar komponen dan alat ukur). Pada barisan terakhir, klik toolbar yang paling kanan. Lalu pilih alat ukur yang ingin dipakai (osiloskop atau multimeter), drag simbol osiloskop atau multimeter ke bawah (layar putih). Pada simbol osiloskop ada empat titik kecil yang bisa dipakai yaitu channel A dan B serta dua node ground.
Untuk mengubah time/div dan volt/div seperti yang biasa dilakukan pada osiloskop yang nyata, klik dua kali simbol osiloskop. Tampilan windows kecil akan muncul dan Anda dapat mengisi nilai time/div , volt/div yang diinginkan ataupun mengubah hal-hal yang lain. Penggunaan multimeter juga hampir sama dengan osiloskop. Drag simbol multimeter, klik dua kali untuk mengubah modus pengukuran (pengukuran arus, tegangan ataupun hambatan).
Pemakaian komponen elektronika
Pada barisan terakhir, mulai dari toolbar ‘gambar’ yang kedua sampai toolbar ‘gambar’ yang ketigabelas adalah toolbar yang berisi simbol komponen. Pada praktikum elektronika dasar ini, Anda hanya cukup memakai toolbar yang kedua sampai toolbar kelima. Mulai dari toolbar kedua sampai kelima, ada simbol komponen seperti simbol resistor, kapasitor, dioda, op-amp, batere, ground, dll. Cara memakai komponen ini hampir sama dengan pemakaian alat ukur. Untuk mengubah besar nilai komponen dilakukan dengan klik dua kali komponen, lalu isi nilai komponen yang diinginkan pada tempat yang disediakan (Simbol sinyal generator ada pada toolbar yang paling kanan/ toolbar alat ukur).
Pembentukan rangkaian
Setelah mengambil beberapa komponen yang diinginkan untuk membentuk suatu rangkaian listrik, Anda perlu menyambung kaki-kaki dari satu simbol ke simbol lainnya. Penyambungan kaki dapat dilakukan dengan: arahkan mouse pointer ke ujung kaki simbol, usahakan ujung kaki simbol berwarna terang; lalu klik dan tahan mouse, tujukan ke ujung kaki simbol yang ingin disamjbung sampai ujung kaki simbol tersebut berwarna terang dan lepas mouse. Kedua komponen akan tersambung dengan suatu simbol kawat penghantar.
Simulasi
Setelah tiga hal tersebut dikuasai, rangkaian listrik sudah dapat dibentuk. Setelah rangkaian listrik plus alat ukur dipasang pada bagian yang akan diukur (biasanya input dan output), Anda dapat memulai simulasi dengan menekan simbol saklar yang terletak di pinggir kanan atas (klik tanda I untuk on simulasi dan klik tanda O untuk off simulasi; tanda pause bisa juga digunakan terutama untuk mencatat nilai). Usahakan windows kecil alat ukur tetap terbuka, supaya grafik hasil pengukuran dapat dibaca. Setelah menguasai tiga langkah dasar dan cara simulasinya, diharapkan Anda dapat menguasai dasar penggunaan software ini.
Adapun keuntungan menggunakan simulasi software Electronics Workbench antara lain :
• Anda tidak perlu menghabiskan banyak dana dan waktu untuk membeli IC atau komponen lain yang diperlukan.
• Anda cukup duduk manis di depan komputer, tidak perlu susah payah keluar mencari IC di toko elektronik.
• Tidak perlu menyolder sehingga waktu Anda tidak terbuang sia-sia.
• Jika Anda ingin melakukan pengukuran, instrumen pengukuran yang tersedia pada Electronics Workbench sudah mencukupi.
• Anda tidak perlu lagi mengeluarkan dana untuk membeli instrumen pengukuran seperti multimeter, voltmeter, amperemeter dan osiloskop.
• Anda juga tidak perlu susah payah membangun rangkaian pembangkit frekuensi karena semuanya tersedia. Anda tinggal mengklik dan enjoy learning using simulation.
Newer Posts Older Posts Home
Aulia DirUt. Powered by Blogger.
 

Followers

 

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger